Minggu, 08 Maret 2015

Mimpi itu..... Harus jadi nyata



Ada yang mengatakan, mimpi akan tetap menjadi mimpi jika kamu terus tertidur. Dan pilihanmu dalam hidup cuma ada dua, bangun dan mewujudkan mimpimu atau teruslah tidur dan bermimpi.

Aku gemini, gemini sejati kurasa. Punya dua kepribadian yang terkadang bertentangan tapi sering kali muncul bersamaan. Seperti gemini lainnya, aku seorang pemimpi yang hebat tapi aku juga ingin mewujudkan mimpi itu menjadi kenyataan.
Bukankah katanya, Tuhan tdak akan merubah nasib suatu kaum jika dia tidak berusaha merubahnya sendiri...

Well, untuk itu lah aku berusaha bangun dari mimpi ku. Berusaha mewujudkan banyak mimpi yang selama ini cuma ada di kepala ku. Yang selalu muncul saat mata ku terbuka, eh itu sih melamun ya ?! ...

Umur hampir 30, masih single - Ok, not yet married dengan beberapa kali ganti pacar dan teman kencan. Pekerjaan belum terlalu mapan, kuliah sudah selesai. Dan sering di cela mama "kenapa dirimu tidak seperti adikmu ?" (note : adik q insinyur teknik nuklir, lulus tepat waktu dan sekarang bekerja di perusahaan penerbangan dengan gaji 4x gaji ku -nangis di kaki gunung). Plus pertanyaan dari berbagai teman "kapan nikah ?" (aku tidak pernah punya ide untuk menjawabnya dengan berkata "Aku berkembang biak dengan membelah diri" karena akan sangat terasa mengerikan jika tiba-tiba tubuhmu membelah menjadi dua atau beberapa bagian dan muncul kembaran mirip dirimu)

Yaah... dengan segala macam hinaan, celaan dan sebagainya itulah akhirnya aku memutuskan untuk, membeli rumah. Yap membeli rumah. Bukan menikah!

Entahlah, menikah bukan masuk di daftar prioritas ku. Bahkan ketika usia ku berjarak kurang 2 tahun dari angka 30. Masih menanti Mr. Right ^_^
Tapi sepertinya aku mengambil keputusan itu karena memang terinspirasi dari teman-teman yang hidup mandiri dan single, khususnya teman-teman ku yang bule (siapa bilang punya temen bule itu dapatnya efek negatif melulu?!). Mereka berani hidup mandiri;  tidak cuma bisa masak, mencuci baju dsb sendiri, tetapi benar-benar hidup mandiri. Selain ada teman dekat yang berkata dengan lugasnya, sudah waktunya kita berhenti bersikap seperti anak-anak dan mulai menata hidup kita (dan si mbak-nya tadi memutuskan menikah tahun ini, uhuk!). Nyees..... adem sekaligus menyakitkan. Dan membuatku tersadar sesadar-sadarnya seperti disiram air es yang baru keluar dari kulkas, memang  sudah waktunya untuk diriku hidup mandiri. Sudah waktunya menghadapi realita....Terlepas dari berbagai alasan yang melatarbelakangi.*ambil tissu..... bersihkan kacamata




Tidak ada komentar:

Posting Komentar